WELCOME

Rabu, 23 Disember 2009

Taqwa, Aset Perjuangan Islam

Pada zaman khalifah Umar bin Khatab, beliau pernah suatu ketika memerintahkan pasukannya ke medan perang sambil berpesan: “Aku lebih takut dosa-dosamu dari pada musuh-musuhmu. Karena kalau kamu berdosa maka ALLAH akan membiarkan kamu kepada musuh-musuhmu “.

Kemudian pada suatu peperangan tentara Islam pernah tidak menang dan tidak kalah selama tiga bulan pertempuran. Ketika sayidina Umar bin Khatab tahu hal itu maka beliau pergi memeriksa pasukannya. Ternyata didapati mereka sudah tidak halus taqwanya. Mereka lalai bersugi (membersihkan gigi) dan tidak meluruskan saf-saf shalat. Dan setelah hal-hal tersebut diperbaiki maka pasukan Islam pun dengan mudah memenangkan peperangan itu.
Kalau kita lihat, baru tidak menyucikan gigi dan tidak lurus saf pun ALLAH hukum dan tidak membantu. Apalagi kalau pejuang-pejuang Islam tidak sholat, membuka aurat, melakukan riba, bergaul bebas, jatuh-menjatuhkan, dengki khianat, tamak dan berebut kuasa.
WALLAHUA'LAM

Jumaat, 18 Disember 2009

SELAMAT BERJUANG






ULAMA' PEWARIS NABI

Di samping sebagai perantara antara diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya, dengan rahmat dan pertolongan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syariat terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya. Oleh karena itu, kematian salah seorang dari mereka mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi muslimin.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: Asy-Sya’bi berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”

Di dalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 60)

Meninggalnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan barakah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terlebih Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ
“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

Kita telah mengetahui bagaimana kedudukan mereka dalam kehidupan kaum muslimin dan dalam perjalanan kaum muslimin menuju Rabb mereka. Semua ini disebabkan mereka sebagai satu-satunya pewaris para nabi sedangkan para nabi tidak mewariskan sesuatu melainkan ilmu.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Ilmu merupakan warisan para nabi dan para nabi tidak mewariskan dirham dan tidak pula dinar, akan tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan ilmu tersebut, sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi tersebut. Dan engkau sekarang berada pada kurun (abad, red) ke-15, jika engkau termasuk dari ahli ilmu engkau telah mewarisi dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ini termasuk dari keutamaan-keutamaan yang paling besar.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 16)

Dari sini kita ketahui bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْناَ الْكِتاَبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْناَ مِنْ عِباَدِناَ
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32)

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (Al-Quran) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/577)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Ayat ini sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi Al-’Ulama waratsatil anbiya (ulama adalah pewaris para nabi).” (Fathul Bari, 1/83)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: Maknanya adalah: “Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu… dan tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para shahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuliakan mereka atas seluruh hamba dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia, mereka mendapat kemuliaan demikian karena mereka umat nabi yang terbaik dan sayyid bani Adam.” (Fathul Qadir, hal. 1418)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”
(Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68)

Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali mengatakan: “Kebijaksanaan Allah atas makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas mereka. Maka barang siapa yang mendapat hidayah maka itu wujud fadhilah (keutamaan) dari Allah dan bentuk rahmat-Nya. Barangsiapa yang menjadi tersesat, maka itu dengan keadilan Allah dan hikmah-Nya atas orang tersebut. Sungguh para pengikut nabi dan rasul menyeru pula sebagaimana seruan mereka. Mereka itulah para ulama dan orang-orang yang beramal shalih pada setiap zaman dan tempat, sebab mereka adalah pewaris ilmu para nabi dan orang-orang yang berpegang dengan sunnah-sunnah mereka. Sungguh Allah telah menegakkan hujjah melalui mereka atas setiap umat dan suatu kaum dan Allah merahmati dengan mereka suatu kaum dan umat. Mereka pantas mendapatkan pujian yang baik dari generasi yang datang sesudah mereka dan ucapan-ucapan yang penuh dengan kejujuran dan doa-doa yang barakah atas perjuangan dan pengorbanan mereka. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya atas mereka dan semoga mereka mendapatkan balasan yang lebih dan derajat yang tinggi.” (Al-Manhaj Al-Qawim fi At-Taassi bi Ar-Rasul Al-Karim hal. 15)

Asy-Syaikh Shalih Fauzan mengatakan: “Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barangsiapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin. Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin. Kalau mereka tidak mempercayai ulama, lalu kepada siapa mereka percaya. Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin mengembalikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat, maka di saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya huru-hara.” (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 140)

Wallahu a’lam.

Rabu, 16 Disember 2009

MAAL HIJRAH: SUNTIKAN UNTUK KEUNGGULAN UMAT

Pada awal abad yang ketujuh Masehi, masyarakat dunia berada di pintu kehancuran. Kuasa dunia pada abad tersebut yang terdiri dari Kerajaan Empayar Rom (509SM-453M) dan Kerajaan Empayar Farsi (700SM-641M) telah menjunam jatuh akibat rebutan kuasa dan perpecahan di sana sini. Masyarakat Arab yang menghuni Semenanjung Tanah Arab lebih teruk menghadapi keruntuhan akibat daripada keruntuhan moral dan sifat taksub kepada kabilah dan puak. Dunia dalam bahaya kerana keadaan masyarakatnya tidak stabil lantaran kehilangan tonggak pegangan dan moral.

Allah Maha Adil dan Maha Penyayang kerana tidak membiarkan masyarakat manusia terus hancur dan musnah. Allah s.w.t mengutuskan seorang rasul-Nya yang terakhir iaitu Nabi Muhammad s.a.w.

Dalam mengimbau kembali peristiwa tersebut, Allah s.w.t menjelaskan dalam firman-Nya yang bermaksud:

'Dan berpegang teguhlah kepada Tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai berai, dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu) lalu Allah menyatukan antara hati kamu (hingga kamu bersatu padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Kamu dahulu berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran) lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (melalui Islam). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keterangan-Nya supaya kamu mendapat petunjuk hidayat-Nya' .(Ali ‘Imran:103)

Ayat tersebut antara lain menjelaskan bahawa keadaan manusia yang hampir-hampir rosak binasa dan akan menerima akibat yang lebih buruk di akhirat telah diselamatkan menerusi pengutusan rasul untuk memandu mereka ke jalan yang benar dan akhirnya mereka terselamat.

Bagi mengubah masyarakat supaya berada dalam keadaan selamat, Rasulullah s.a.w telah berhempas pulas mengorbankan segala apa yang ada dan ini diikuti pula oleh sahabat-sahabat baginda yang setia. Dalam tempoh 23 tahun, usaha tersebut dicurahkan oleh baginda dan akhirnya mencapai matlamat iaitu berjaya mengubah dan menyelamatkan masyarakat dunia dari kehancuran dan kerosakan.

Dalam sebuah hadith riwayat Muslim, Rasulullah s.a.w membuat perbandingan tentang usahanya itu yang bermaksud:

'Antara aku dan kamu diumpamakan seperti seorang lelaki yang menyalakan api. Maka datanglah segala unggas dan binatang-binatang kecil yang berterbangan lalu jatuh ke dalamnya, sedangkan lelaki itu berusaha untuk menahan benda-benda tersebut dari jatuh ke dalamnya. Aku memegang dengan kuat ikatan pinggang kamu supaya tidak jatuh ke dalam api, sedangkan kamu terlepas dari peganganku.'

Hadith ini menggambarkan keadaan manusia yang menuju kepada kebinasaan sedangkan mereka tidak mengetahuinya. Manakala Rasulullah s.a.w pula berusaha sedaya upaya untuk menyelamatkan mereka agar terlepas dari kebinasaan itu. Akhirnya masyarakat Islam di Semenanjung Tanah Arab telah dapat mencabar kuasa dunia iaitu Rom dan Farsi seterusnya muncul selepas itu sebagai sebuah masyarakat yang mengambil alih kuasa dunia.

Rasulullah s.a.w dan para sahabat r.a berjaya mengubah masyarakat dari sudut kepercayaan, sikap, moral, cara berfikir dan segala-galanya, termasuk perubahan pengorbanan daripada tertumpu kepada sesama manusia kepada tertumpu kepada Allah. Masyarakat manusia berjaya dipindahkan dari dua keadaan yang perbezaannya sangat jauh.

Dalam menyusuri perkembangan sejarah, selepas kejayaan kali pertama maka masyarakat Islam mengharungi jatuh bangun dalam pentas pergolakan dunia dan ia berkait rapat dengan komitmen mereka terhadap agama Islam yang suci. Era kemalapan umat Islam kali terakhir berlaku pada awal abad ke-20. Sejak kejatuhan Khalifah Uthmaniah di Turki pada tahun 1924, masyarakat Islam semakin terumbang-ambing di gelanggang dunia. Kini masyarakat Islam masuk ke era kelemahan dan keruntuhan yang menyeluruh. Masyarakat Islam yang berpecah-pecah berdasarkan kawasan dan negara, menjadi sebuah masyarakat yang sentiasa dicabar dan dihina di mana-mana. Menjelang abad ke-21, masyarakat Islam diganyang di merata-rata seperti di Yugoslavia, Iraq, Palestin, Kosovo dan di seluruh pelosok dunia. Apa yang berlaku sekarang jelas sebagaimana yang diceritakan dalam sebuah hadith riwayat Abu Daud yang bermaksud:

'Hampir-hampir seluruh umat mengeliling kamu sepertimana orang-orang yang kelaparan mengelilingi hidangan mereka.' Ada yang bertanya, 'Apakah itu disebabkan bilangan kita kurang?' Nabi s.a.w menjawab: 'Bilangan kamu pada ketika itu ramai tetapi seperti buih. Allah mencabut dalam hati seteru kamu perasaan gerun terhadap kamu dan meletakkan perasaan al-wahn dalam hati kamu.' Ada yang bertanya: 'Apa al-wahn itu wahai Rasulullah?' Jawab Baginda: 'Cintakan dunia dan bencikan mati.'

Hadith ini jelas menunjukkan bahawa sampai suatu masa orang-orang Islam samalah seperti satu hidangan yang dikelilingi oleh sekumpulan orang yang lapar lagi gelojoh makan. Tiada sedikitpun perasaan bimbang dalam hati orang bukan Islam untuk melakukan apa sahaja yang disukai terhadap orang-orang Islam kerana mereka sangat lemah.

Ada bermacam-macam jawapan apabila ditanya sebab kelemahan masyarakat Islam sekarang. Ada yang berpendapat ia berpunca dari kelemahan politik dan perpecahan di kalangan masyarakat Islam. Ada yang berpendapat kerana kelemahan ekonomi, kelemahan pendidikan dan pencapaian ilmu ataupun kerana kelemahan dalam pencapaian sains dan teknologi. Ada yang memberikan alasan kerana kelemahan iman atau kerana tidak mengikut arahan agama dan bermacam-macam lagi.

Namun berdasarkan hadith itu tadi, jelas menunjukkan bahawa sebab kelemahan masyarakat Islam ialah hilangnya semangat berkorban dari dalam diri mereka. Umat Islam sudah tidak sanggup berkorban untuk tidak cintakan dunia atau berkorban untuk tidak takut mati. Mereka cintakan dunia sehingga sanggup memilihnya dengan membelakangkan kepentingan agama. Mereka juga takutkan mati apabila dituntut oleh agama bangun memperjuangkan sesuatu kebenaran. Inilah sifat-sifat negatif yang menjangkiti umat Islam.

Roh Ma’al Hijrah memerlukan setiap umat Islam berkorban untuk berpindah daripada bentuk negatif yang ada dalam diri mereka kepada bentuk-bentuk positif yang selaras dengan Islam. Berkorban ataupun jihad perlu tersemai di dalam jiwa masyarakat Islam sama ada dari sudut pengertian mahupun sikap.

Masyarakat Islam kini agak jauh terpesong dari landasan agamanya. Sebagai contoh, sungguhpun agama menuntut agar umatnya menuntut ilmu, tetapi kenyataan yang ada, sehingga kini sebahagian besar masyarakat Islam adalah buta huruf. Islam juga menuntut umatnya bersatu padu. Namun realiti masa kini umat Islamlah yang paling ramai berpecah belah. Demikianlah juga, Islam menuntut umatnya supaya rajin, berdisiplin dan menjaga masa tetapi orang Islamlah yang kurang berusaha, tidak berperaturan dan suka membuang masa.

Jika dilihat kepada dasar-dasar ajaran Islam itu sendiri, peluang orang Islam untuk maju dan mulia dalam dunia masa kini amatlah cerah. Ini kerana orang Islam mempunyai aset yang mencukupi dalam rangka untuk menempah kemajuan iaitu dorongan dari ajaran Islam dan aset material.

Aset galakan dan dorongan agama ini dapat dilihat dengan jelas di mana Islam sangat mementingkan ilmu dan mewajibkan ke atas setiap umatnya menuntut ilmu. Agama juga menuntut orang Islam sentiasa membina kekuatan dan kemuliaan. Kewajipan ini mendorong kuat umat Islam berusaha mencapai kekuatan dan kemuliaan pada setiap masa dan ketika. Ajaran Islam juga sangat mementingkan pegangan hidup yang mantap dan akhlak mulia. Islam juga mewajipkan umatnya menjalankan aktiviti kehidupan dengan bersih, ikhlas dan amanah.

Oleh itu, galakan-galakan seperti ini sangat penting dan menjadi modal yang besar kepada masyarakat Islam dalam mengembalikan keagungan dan kegemilangan zaman emas umat Islam.

Di samping itu, umat Islam memiliki aset material yang besar dan utama yang tidak dimiliki oleh kuasa kuffar. Petroleum, gas asli, bahan galian, sumber air, hasil hutan, bahan makanan, bilangan penganut dan banyak lagi adalah sumber kekuatan umat yang sentiasa menjadi bahan rebutan dan eksploitasi oleh golongan kuffar. Dengan adanya aset-aset tersebut dan manfaat secukupnya maka tidak mustahil masyarakat Islam menjadi satu masyarakat yang kuat dan maju sebagaimana yang pernah ditempa pada suatu ketika dahulu.

Perpindahan Rasulullah s.a.w dan para sahabat r.a dari kota Mekah ke Madinah dan sebelumnya perpindahan sesetengah sahabat dari Mekah ke Habsyah, merupakan pembinaan langkah baru sebagai persiapan menghadapi cabaran yang bakal tiba secara terus menerus. Hijrah bukanlah asing dalam Islam dan ia adalah sebahagian daripada Islam. Hijrah kerana menuntut ilmu, mencari kebenaran, berjihad, berdakwah, mencari nafkah, kerana perniagaan dan bermacam-macam hijrah lagi adalah tuntutan dan asas ajaran Islam itu sendiri.

Untuk terus maju dan mencapai kemuliaan, masyarakat Islam tidak boleh berpeluk tubuh dan hanya menyerah kepada takdir. Umat Islam dahulu telah berjihad secara habis-habisan, maka sebab itulah mereka berjaya meletakkan Islam di tempat yang mulia dan sepatutnya. Kini giliran kita memberi sumbangan kepada agama yang suci ini agar ia terus berkembang dan dihormati. Sesungguhnya bumi ini dan segala apa yang ada padanya adalah hak kepunyaan umat Islam. Di tangan orang Islamlah selayaknya ia harus ditadbirkan. Firman Allah s.w.t yang maksudnya:

'Dan demi sesungguhnya, Kami telah tulis dalam kitab-kitab yang Kami turunkan sesudah ada tulisannya pada Luh Mahfuz, bahawasanya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang soleh' .(al-Anbiya’:105)

Ayat tersebut menjelaskan kepada orang Islam tentang hak mereka mewarisi pentadbiran bumi ini, tetapi dengan syarat bahawa mereka terdiri dari golongan orang-orang yang soleh. Jika syarat tersebut luput, maka mereka tidak berhak apatah lagi layak mendapatkannya.

Bagi melepaskan diri dari kongkongan kelemahan dan kehinaan, maka umat Islam perlu melihat hijrah dalam pengertiannya yang luas iaitu perubahan diri menuju kepada kegemilangan di dunia dan di akhirat. Untuk itu maka langkah yang perlu diatur mestilah mengandungi kefahaman yang jelas dan gerak kerja yang teratur dan betul.

Perubahan ke arah kemajuan dan kemuliaan ummah bermula dengan pengisian kefahaman bahawa Islam adalah agama yang agung dan mulia maka umatnya juga jelas adalah umat yang agung dan mulia. Namun ia hanya dapat dicapai menerusi kekuatan spiritual, moral, fizikal, dan daya cipta serta kesatuan umat itu sendiri. Masyarakat Islam juga wajib memahami bahawa segala ilmu yang baik dan berfaedah kepada manusia adalah termasuk ke dalam ilmu yang disukai dan dituntut oleh Islam. Oleh itu, menuntut ilmu yang bermanfaat adalah satu kewajipan dan dikira berdosa mereka yang mengabaikannya. Masyarakat juga perlu memahami bahawa mereka merupakan pewaris yang sah kepada kepimpinan bumi ini. Tanpa pertunjuk dan panduan hidup dari Allah Tuhan semesta alam, mustahil kaum lain yang mensyirikkan Allah s.w.t layak mentadbir bumi yang diciptakan-Nya.

Di samping kefahaman, beberapa gerak kerja juga harus diatur oleh masyarakat Islam untuk tujuan kemajuan dan kemuliaan Islam iaitu menceburkan diri dalam pelbagai kajian dan penemuan dengan lebih kuat daripada masyarakat lain, asalkan ianya berfaedah dan tidak bercanggah dengan batas-batas syarak. Masyarakat Islam juga perlu bergerak dan bekerja secara terbuka tanpa terikat dengan kongkongan pemikiran yang sempit dan merugikan. Dan juga perlu menghidupkan dan menghayati semangat jihad iaitu bersungguh-sungguh dan berkorban dalam mencapai cita-cita murni yang bertepatan dengan Islam. Umat Islam tidak dapat tidak mesti memperkukuhkan tonggak kekuatan yang terdiri dari kekuatan akidah, fizikal dan material. Mereka juga perlu mempertingkatkan usaha melahirkan masyarakat yang soleh dan seimbang dari segi rohani dan jasmani kerana ia menjadi syarat mewarisi teraju kepimpinan bumi ini.

Masyarakat Islam yang kian pudar dan kian hilang kekuatan tidak boleh dibiarkan terus berada dalam keadaan seperti ini. Masyarakat Islam pada hakikatnya mempunyai aset dan sumber kekuatan yang perlu digerakkan dan dimanfaatkan demi kemajuan dan kemuliaan umat. Kita mampu berbuat demikian jika kita mahu kerana bekalan sudah tersedia. Jika generasi awal umat Islam boleh melakukannya maka mengapa kita tidak boleh. Sesungguhnya Ma’al Hijrah merupakan titik tolak yang paling sesuai ke arah itu.

Isnin, 23 November 2009

SERAHAN LEMBU KORBAN 2009


SERAHAN LEMBU DI KG. LANAI OLEH
EN. ZOLKIFLI BIN ABU OSMAN (WAKIL YB.)


MEMILIH LEMBU UNTUK DITURUNKAN


LEMBU PILIHAN.


LEMBU DARI STADIUM DARUL AMAN

Tarikh: 23 November 2009

1 - Kg. Lanai
2 - Kg. Carok Bakap
3 - Kg. Paya Besar
4 - Kg. Padang Setol
5 - Kg. Padang Geh
6 - Pekan Lama Kuala Ketil
7 - Kg. Kejai

Sabtu, 21 November 2009

KELAB PENYOKONG PAS BALING KE KELANTAN


Taklimat dan penerangan oleh YB Mohd Zaki Ibrahim


YB Cikgu Md Zuki Yusuf menyampaikan salam kunjungan
kepada YAB Menteri Besar Kelantan

sebahagian ahli rombongan dari masyarakat cina dan siam
YAB Tuan Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat Menyampaikan kuliah
ahli rombongan kelab penyokong PAS Baling Mendengar
kuliah tuan guru di Kota Bharu
kelab penyokong PAS Baling menyampaikan
kalungan Bunga kepada YAB Tuan Guru

Rabu, 11 November 2009

SELAMAT MENUNAIKAN HAJI

SELAMAT MENUNAIKAN HAJI KEPADA RAKYAT MALAYSIA KHUSUSNYA PENDUDUK DUN KUALA KETIL... Ucapan semoga beroleh HAJI MABRUR... AMINN..
daripada : YB Cikgu Md Zuki Yusof, Ahli Dewan Undangan Negeri N.32 Kuala Ketil

Selasa, 10 November 2009

OPERASI BASMI MUSUH TANAMAN PENDUDUK

OPERASI BASMI MUSUH TANAMAN PENDUDUK
itulah bunyinya ops kali ini. operasi di sekitar kampung padang besar,
padang kunyit, paya menora dan sekitarnya. Program ini dengan
kerjasama RELA
berganbar sebelum operasi bermula

perbincangan strategi operasi..

antara musuh tanaman yang mengancam tanaman penduduk
penembak tepat menerima hadiah
YB Cikgu Md Zuki Menyampaikan ucapan terima kasih atas kerjasama
yang diberikan untuk operasi ini
Bang Mad disamping musuh2 tanaman penduduk.. tanaman yang
diusahakan penduduk seperti Jagung, Pisang, Tebu, Tanam semula getah,
cabai dsbagainya..

berhenti penat setelah operasi tamat, tunggu ketua kampung jamu nasi.
gambar kenangan bersama musuh2 utama tanaman

Rabu, 4 November 2009

MENINJAU PERTANIAN PENTERNAKAN PENDUDUK BERSAMA EXCO PERTANIAN

YB Dato' Ir Amiruddin Hamzah Meninjau projek ternakan penduduk di kawasan Baling.






perbincangan dan tinjauan masalah yang dihadapi
YB Exco Bersama YB ADUN Kuala Ketil ADUN & Kupang










JAMUAN HARI RAYA 2009

Jamuan hari raya diadakan di Tapak Pasar Malam Kuala Ketil pada 10/10/09 sabtu, dengan kerjasama PAS kawasan dan seluruh cawangan dalam DUN kuala ketil.





Pihak YB Cikgu Md Zuki Yusuf mengucapkan ribuan terika kasih di atas kerjasama yang diberikan oleh semua pihak..